Pendekatan Semiotika dalam Studi Islam

A. PENDAHULUAN
Semiotika merupakan sebuah model ilmu pengetahuan sosial dalam memahami dunia sebagai sistem hubungan yang memiliki unit dasar yang disebut “tanda”. Tanda dalam semiotika menggambarkan sebuah pesan.
Pada awalnya kajian semiotika berkembang dalam wilayah bahasa, yang mengungkap antara bahasa sebagai system social dan bahasa sebagai ujaran pribadi.
Pada perkembangan selanjutnya, semiotika tidak hanya digunakan untuk mengkaji masalah bahasa saja, akan tetapi meluas diberbagai disiplin ilmu, semiotika dijadikan sebagai sebuah pendekatan.
Agama merupakan Salah satu bidang kelimuan yang tidak lepas dari pendekatan semiotika. Agama yang mencakup wilayah ketuhanan dan wilayah kemanusiaan menjadi wilayah yang subur akan kajian semiotika, terutama bila dikaitkan dengan teks kitab suci dan symbol keagamaan lainnya termasuk masjid.
Pada makalah ini, penulis mencoba membahas tentang Masjid di Barat (mengambil artikel dari Nebahat Avcioglu) dari sisi semiotika,

B. RUMUSAN MASALAH
Bagaimana Konsep masjid di Barat dalam kajian Semiotik?

C. LANDASAN TEORI
1. Konsep awal Semiotika
Kata semiotika berasal dari bahasa Yunani “Semeion” yang memiliki arti tanda, sedangkan tanda itu sendiri diartikan sebagai sesuatu yang dapat mewakili sesuatu yang lain atas dasar konvensi sosial. semiologi tidak berurusan dengan isi melainkan dengan bentuk yang membuat suara, imaji, gerak, dan seterusnya yang berfungsi sebagai tanda.
Semiologi adalah salah satu ilmu yang dicetuskan oleh Ferdinand de Saussure. Dikatakan sebagai ilmu karena objek kajiannya, yakni bahasa, dimana Bahasa diperlakukan sebagai sesuatu yang objektif. Bahasa dapat dikuliti dan dibedah karena di tangan Saussure bahasa adalah struktur yang terdiri dari penanda (signifier) dan petanda (signified), atau dalam istilah Barthes, bentuk (form) dan konsep (concept). Semiologi ini diadopsi Barthes seraya mengembangkan kedua unsur bahasa ini menjadi makna awal (denotatif) dan makna tingkat II (konotatif).
Saussure selanjutnya membedakan bahasa dalam dua istilah yaitu langue dan parole, langue menekankan bahasa sebagai ujaran sosial dalam arti bahasa adalah produk dan ujaran kelompok sosial, sedangkan parole menurut Saussure adalah penggunaan bahasa dalam kontek individual.
Mitos adalah suatu bentuk pesan atau tuturan yang harus diyakinii kebenarannya tetapi tidak dapat dibuktikan.
Menurut Roland Barthes tuturan mitologis bukan saja berbentuk tuturan oral, tetapi tuturan itu dapat berbentuk tulisan, fotografi, film, laporan ilmiah, olah raga, pertunjukan, iklan, lukisan. Mitos pada dasarnya adalah semua yang mempunyai modus representasi.
Mitologi terdiri dari semiologi dan ideologi. Semiologi sebagai formal science dan ideologi sebagai historical science.Mitologi mempelajari tentang ide-ide dalam suatu bentuk.
Jadi, Semiotika adalah ilmu tentang tanda-tanda. Ilmu ini menganggap bahwa fenomena sosial atau masyarakat dan kebudayaannya merupakan tanda-tanda. Artinya, semiotika mempelajari sistem-sistem, aturan-aturan, konvensi-konvensi yang memungkinkan tanda-tanda tersebut mempunyai arti. Dengan kata lain, semiotika mempelajari relasi di antara komponen-komponen tanda, serta relasi antara komponen-komponen tersebut dengan masyarakat penggunanya.


2. Elemen Dasar Semiotika
a. Komponen Tanda
Dalam perkembangannya, semiotika menganut dikotomi bahasa yang dikembangkan Saussure, yaitu tanda (sign) memiliki hubungan antara penanda (signifiant/signifier) dan petanda (signifie/signified). Penanda adalah aspek material, seperti suara, huruf, bentuk, gambar, dan gerak, sedangkan petanda adalah aspek mental atau konseptual yang ditunjuk oleh aspek material. Kedua aspek ini, yaitu penanda dan petanda kemudian disebut komponen tanda. Suara yang muncul dari sebuah kata yang diucapkan merupakan penanda, sedang konsepnya adalah petanda. Sehingga keberadaan dua unsur ini tidak bisa dipisahkan, dan pemisahan hanya akan mengaburkan pengertian kata (tanda) itu sendiri
Dalam pandangan Saussure, tanda adalah kesatuan dari suatu bentuk penanda dengan sebuah ide, atau petanda. Dengan lain kata, penanda adalah bunyi atau coretan yang bermakna. Jadi penanda adalah aspek material dari bahasa, apa yang dikatakan atau didengar, dan apa yang ditulis atau dibaca. Sedangkan petanda adalah gambaran mental, pikiran, atau konsep. Jadi petanda adalah aspek mental dari bahasa.
b. Aksis Tanda
Di dalam konteks strukturalisme bahasa, tanda tidak dapat dilihat hanya secara individu, akan tetapi dalam relasi dan kombinasinya dengan tanda-tanda lain di dalam sebuah sistem. Analisis tanda berdasarkan sistem atau kombinasi yang lebih besar ini melibatkan apa yang disebut aturan pengkombinasian yang terdiri dari dua aksis tanda, yaitu aksis sintagmatik dan aksis paradigmatik.
Aksis sintagmatik adalah sebuah relasi yang merujuk kepada hubungan in praesentia di antara satu kata dengan kata-kata yang lain, atau antara satuan gramatikal dengan satuan gramatikal yang lain di dalam ujaran atau tindak tutur (speech act). Karena tuturan selalu diekspresikan sebagai suatu rangkaian tanda-tanda verbal dalam dimensi waktu, maka relasirelasi sintagmatik kadang disebut juga relasi-relasi linear. Atau, satu perangkat tanda (seperti kamus) yang melaluinya pilihan-pilihan dibuat, dan hanya satu di antara pilihan tersebut yang dapat dipilih.
Aksis sintagmatik ini berkebalikan dengan relasi asosiatif, yang di dalam linguistik pasca Saussure disebut sebagai aksisparadigmatik. Di dalam relasi ini setiap tanda berada di dalam kodenya sebagai bagian dari suatu paradigma, suatu sistem relasi in absentia yang mengaitkan tanda-tanda tersebut dengan tanda-tanda lain sebelum ia muncul dalam tuturan. Dengan lain kata, aksis paradigmatik adalah cara pemilihan dan pengombinasian tanda-tanda berdasarkan aturan atau kode tertentu, sehingga dapat menghasilkan sebuah ekspresi bermakna.
Kode adalah seperangkat aturan bersama atau konvensi yang di dalamnya tanda-tanda dapat dikombinasikan, sehingga memungkinkan pesan dikomunikasikan dari seseorang kepada orang lain. Kode merupakan aturan yang menghasilkan tanda-tanda sebagai penampilan konkritnya di dalam hubungan komunikasi. Implisit dalam pengertian kode di atas adalah adanya kesepakatan sosial di antara anggota komunitas bahasa tentang kombinasi seperangkat tanda-tanda dan maknanya.
c. Tingkatan Tanda
Salah satu area penting yang dirambah Roland Barthes dalam studinya tentang tanda adalah tingkatan tanda, yaitu tingkat denotasi dan konotasi. Denotasi adalah tingkat pertandaan yang menjelaskan hubungan antara penanda dan petanda, atau antara tanda dan rujukannya pada realitas, yang menghasilkan makna yang eksplisit, langsung, dan pasti. Makna denotasi dalam hal ini adalah makna pada apa yang tampak.
Konotasi adalah tingkat pertandaan yang menjelaskan hubungan antara penanda dan petanda yang di dalamnya beroperasi makna yang tidak eksplisit, tidak langsung, dan tidak pasti (terbuka terhadap berbagai kemungkinan). Ia menciptakan makna-makna lapis kedua yang terbentuk ketika penanda dikaitkan dengan berbagai aspek psikologis, seperti perasaan, emosi, atau keyakinan. Misalnya, tanda bunga, ia mengkonotasikan kasih sayang. Konotasi dapat menghasilkan makna lapis kedua yang bersifat implisit, tersembunyi, inilah yang disebut makna konotatif.
Jadi, denotasi adalah makna paling nyata dari tanda, sedangkan konotasi adalah istilah yang menunjukkan signifikasi tahap kedua. Konotasi mempunyai makna yang subyektif atau paling tidak intersubyektif. Dengan kata lain, denotasi adalah apa yang digambarkan tanda terhadap obyek, sementara konotasi adalah bagaimana menggambarkan tanda tersebut.
d. Relasi antar tanda
Selain kombinasi tanda, analisis semiotika juga berupaya mengungkap interaksi di antara tanda-tanda. Meskipun bentuk interaksi antara tanda-tanda ini sangat luas, akan tetapi ada dua bentuk interaksi utama yang dikenal, yaitu metafora dan metonimi.
Metafora adalah sebuah model interaksi tanda, yang di dalamnya sebuah tanda dari sebuah sistem digunakan untuk menjelaskan makna untuk sebuah sistem yang lainnya. Misalnya penggunaan metafora “kepala batu” untuk menjelaskan seseorang yang tidak mau diubah pikirannya.
Metonimi adalah interaksi tanda, yang di dalamnya sebuah tanda diasosiasikan dengan tanda lain, yang di dalamnya juga terdapat hubungan bagian dengan keseluruhan. Misalnya, tanda “botol” (bagian) untuk mewakili pemabuk (total), atau, tanda “mahkota” untuk mewakili konsep tentang kerajaan. Tanda Menara dan Kubah untuk mewakili konsep bangunan Masjid.

3. Bahasa sebagai Sistem Tanda (Sign System)
Semiotika lahir dalam lingkup bahasa, ada dua Madhab yang membahas tentang bahasa sebagai sebuah system tanda. Pertama, Madhab Struktural yang gawangi oleh Ferdinand De Saussure, yang berpandangan bahwa  bahasa merupakan “tanda” (sign)  yang memiliki komponen signifiant dan signifie.
Kedua, Madhab Charless Sander Peirce, yang lebih mengedepankan bahasa sebagai sebuah symbol, dimana symbol itu sendiri diartikan sebagai tanda yang mengacu pada obyek tertentu di luar tanda itu sendiri. Hubungan antara simbol sebagai penanda dengan sesuatu yang ditandakan (petanda) sifatnya konvensional. Berdasarkan konvensi itu pula masyarakat pemakainya menafsirkan ciri hubungan antara simbol dengan obyek yang diacu dan menafsirkan maknanya.
Dari penjelasan diatas dapat dipahami bahwa dalam sebuah bahasa terdapat tanda, symbol, ikon dan lambang. Kesemuanya hadir dalam interaksi manusia dalam lingkungan social dan ujaran Individual.
4. Agama dalam Kajian semiotika
Bahasa agama yang hadir di tengah-tengah kita, baik dalam bentuk jargon atau pun hasil dari pemikiran mendalam, selalu diyakini kebenarannya. diyakini pula bahwa bahasa yang digunakan untuk pengetahuan agama memiliki referensi objektif. Misalnya mengenai Tuhan. Ketika kitab suci berbicara Tuhan, berarti Tuhan ada secara objektif “di sana”. Bahkan aturan yang dibuat berdasarkan bahasa agama benar-benar disabdakan Tuhan. Tidak ada yang membantah hal ini.  
Meski demikian, bahasa agama tetap saja tidak memiliki referensi indrawi. Karena panca indra manusia, dan bahkan rasio sekali pun terbatas ketika berbicara tentang metafisika (termasuk juga tentang Tuhan). Indra dan rasio manusia hanya dapat bersentuhan dengan fenomena (benda sebagaimana tampakannya), tidak dengan nomena (benda pada dirinya). Apa yang selama ini dirumuskan sebagai pengetahuan, didasarkan pada fenomena, atau apa yang tampak, tidak bersentuhan dengan benda pada dirinya (thing in its self). Begitupun dengan metafisika, dalam hal ini Tuhan, yang kita lihat bukan Tuhan pada dirinya. Melainkan dari fenomena alam lah manusia bisa menyimpulkan adanya Tuhan. Hanya iman yang menjamin objektivitas informasi dalam agama.
Bahasa agama dalam bentuk wahyu dan interpretasi atas wahyu, selanjutnya dipandang sebagai ajaran universal. Kategori universal bahasa agama berarti apa yang diajarkan dalam teks suci berlaku bagi seluruh umat manusia. Ajaran abadi yang tak tergerus oleh ruang dan waktu. Pada saat kitab suci itu turun barangkali memang ajaran kitab suci tersebut sifatnya partikular. Karena ia hadir untuk menjawab persoalan-persoalan yang dihadapi saat itu. Akan tetapi, ketika zaman sudah berubah, dengan persoalan yang berubah pula, ajaran dari kitab suci tersebut menjadi normatif. Artinya, apa yang terjadi secara historis pada saat turunnya kitab suci, dengan kategori universalnya, menjadi hilang. Bahasa agama yang digunakan pada periode berikutnya sudah menjadi prinsip umum yang universal.
Menurut Komarudin Hidayat , dalam memahami bahasa Agama setidaknya ada dua macam pendekatan , Pertama , theo-oriented ,dimana Bahasa Agama merupakan kalam Ilahi yang kemudian diabadika dalam kitab suci. Kedua, Antropo-Oriented, yaitu bahasa agama merupakan ungkapan serta perilaku keagamaan dari seseorang atau sebuah kelompok social1.
Untuk lebih memahami bahasa Agama, Ahmad Muzakki menjelaskan beberapa kriteria bahasa Agama antara lain : Pertama , Objek Bahasa Agama Adalah Metafisis, dimana Tuhan dan kehidupan baru dibalik kematian dunia sebagai pusatnya. Kedua, Format dan Narasi pokok keagamaan adalah Kitab Suci. Ketiga, Bahasa Agama mencakup ekspresi dan ungkapan keagamaan secara Pribadi maupun Kelompok2.
Dalam agama Islam, semiotika juga berperan dalam al-Qur’an. Kata ayat (ayah) terdapat ratusan kali dalam al-Qur’an. Arti dasarnya adalah “tanda”. Misalkan dalam surat AL-Fusilat 53 :
                       
Artinya :
Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?

Dari ayat ini sangat jelas bahwa Islam Khususnya Al-Quran merupakan wilayah yang sangat subur dalam kajian Semiotika. Tanda memiliki hubungan yang erat antara penanda (signifiant) dan petanda (Signifie). Penanda adalah bunyi atau coretan yang bermakna dan petanda adalah aspek mental atau makna dari bunyi itu sendiri3.
Memahami pendekatan semiotika dalam Islam, menurut penulis tidak lepas dari dua hal yaitu Kauniyah dan Kauliyah. Ketika dikaitkan dengan Konsep Pierce maka kedua merupakan wilayah Subur kajian semiotika yaitu tanda (Sign). Ayat kauniah merupakan bagian dari bahasa Agama dimana Simbol-simbol yang digambarkan dengan alam semesta merupakan cara Tuhan untuk memberikan pemhaman kepada manusia akan keberadaan-Nya.
Sedangkan ayat Kauliyah yang berupa Wahyu merupakan sarana Tuhan dalam menyampaikan Pesan kepada Hamba-Nya. Dalam kaitannya dengan Konsep De Saussure maka terdapat dua hal yang tidak lepas dari kajian semiotika yaitu Langue (Lughah) yaitu Bahasa sebagai produk social dan Parole (Kalam) dimana bahasa merupakan ujaran atau ekspresi individual.
Terkait dengan teks Al-Qur’an tersebut maka tidak lepas dari makna denotative dan konotatif. Makna denotative merupakan makna yang paling dekat dengan tekst atau tanda itu sendiri, sedangkan makna konotatif adalah makna kedua yang lahir dari teks itu sendiri. Sebagai Contoh kata Yatim dalam bahasa Arab , secara denotative diartikan sebagai anak yang ditinggal mati oleh Bapaknya, ini disebut makna pertama. Sedangkan dalam telaah konotatif makna Yatim mengalami perluasan dimana Yatim bukan diartikan sebagai anak yang ditinggal mati oleh Bapaknya akan tetapi seoarang anak yang tidak diurusi atau diberi hak oleh bapaknya, makna ini, meminjam istilah nya Bartens disebut makna kedua.
Jadi untuk memahami Al-Qur’an yang merupakan kitab Salillihun li Kulli Zamanin wa Makanin, maka tidak hanya diperlukan makna Secara Denotatif melainkan juga makna secara Konotatif. Jika AL-Qur’an hanya dimaknai secara tekstual (Denotatif) maka peran Al-Quran sudah berhenti sejak lama dan tidak berlaku sepanjang zaman. Dalam pandangan Nasr Hamid maka memahami makna teks keagamaan dibedakan menjadi dua makna yaitu makns khusus (Tarikhi) dan Makna Umum (Daim Mustammir). Makna khusus terikat dengan realitas kultur historis dan makna Umum merupakan sisi dinamis yang dapat berubah seiring dengan perkembangan zaman4.

D. MASJID DI BARAT (SEBUAH KAJIAN SEMIOTIKA)
Jurnal yang ditulis oleh tentang Masjid di Barat merupakan satu makalah yang mengkritisi tentang tulisan Edward Said dalam bukunya yang berjudul “Orientalism”. Dari pemaparan makalah tersebut Penulis dapat menangkap bebereapa point pembahasan antara lain :
1. Nebahat Avcioglu Mencoba mengkritisi model arsitektur bangunan Masjid di Eropa dan Amerika utara yang cenderung mengedepankan symbol Menara dan kubah daripada esensi masjid itu sendiri.
Menara dan Kubah digambarkan sebagai symbol budaya islam, sehingga beberapa masjid di barat tidak lepas dari adanya menara. Menurut Penulis sendiri, konsep menara Pada masjid tidak lepas dari peran sejarah perkembangan Islam, diawal mula islam menara di masjid digunakan untuk mengumandangkan Adzan. Ini tidak aneh, sebab pada awal perkembangan Islam belum ada pengeras suara sehingga untuk mengumandangkan Adzan agar bias didengar oleh Masyarakat umum.
Penggunaan menara tentunya bukan hal yang tabu atau identic dengan budaya Masyarakat islam, ini bias dijadikan sebagai symbol sejarah. Meski pun itu bukan suatu keharusan, apa lagi di era teknologi sekarang ini, yang banyak tersedia alat untuk membantu syiar Islam.
Dalam pandangan semiotika, mungkin sisi historis ini perlu dipertahankan. Bukan sebagai nilai mati tetapi makna historis dibalik menara dan kubah dalam Masjid.
2. Arsitektur bangunan Masjid yang ada dibarat mengikuti penggagasnya, menurut Penulis ada kecenderungan dimana Masjid yang dibangun akan mengikuti konsep penggagasnya, arsitektur akan mengikuti penyumbang dana pembangunan masjid itu sendiri.
Sebagai contoh didalam Artikel tersebut masjid Syah Jahan di Woking UK yang dibangun pada Tahun 1889 lebih cenderung mirip dengan Taj Mahal. Model ini tidak lepas dari penyumbang dananya Syah Jehan.


Sedangkan Masjid Agung Paris yang dirancang oleh sekelompok arsitektur Perancis, mengambil insfirasi estetika dari model masjid di Maroko, Tunisia Al-Jazair dan Al Hambra di Spanyol. Masjid ini mengacu Masjid di Afrika utara tidak lepas dari peran serta pengrajin dari Afrika Utara .
 
Masjid Hamburg di Jerman yang dibangun pada tahun 1973 yang dirancang oleh Schramm dan Elingius juga merupakan masjid yang dinani oleh Masyarakat Iran dan  lembaga-lembaga keagamaan Iran, modelnya identic dengan dua menara.

Masjid di Qum Iran

3. Budaya Barat dan Budaya Islam
Dalam artikel yang ditulis oleh Nebahat Avcioglu , secara implisit menurut Penulis ada semacam usaha untuk memisahkan dari budaya Masyarakat islam yang cenderung membangun masjid dengan model  Menara dan Kubah.

4. Munculnya gagasan Eropa Islam
Maksud dari Munculnya gagasan Eropa Islam adalah adanya keinginan agar Islam beradaptasi dengan eropa dan bukan Eropa beradaptasi dengan Islam (Hal 104). Dalam konsep Masjid, mungkin bermaksud agara model dan bangunan Masjid di Eropa tidak melulu meniru gaya bangunan di luar Eropa khususnya timur tengah dan Afrika Utara.
Menurut Penulis symbol menara dan kubah pada bangunan Masjid di eropa dalam analisis semiotika memiliki makna tersendiri. Secara Historis sebagaimana Nasr Hamid , menara dan kubah memiliki Makna Khusus yang tidak lepas dari perkembangan awal Islam. Symbol ini kemudian melekat dalam kehidupan masyarakat. Sehingga tidak aneh jika masjid sering di simbolkan dengan gambar menara dan kubah, seperti gambar berikut :
Sebagai contoh , ketika kita berjalan-jalan atau traveling kemudian kita melihat plang atau tanda seperti gambar diatas , maka itu artinya ada masjid disekitar tempat tersebut.
E. PENUTUP
Semiotika merupakan salah satu bidang kajian bahasa yang khusus membahas tentang tanda (Sign). Tanda dalam pandangan Pierce mencakup symbol dan ikon. Inti dari semiotic adalah adanya penanda dan petanda, serta maknanya baik secara denotative mau pun konotatif.
Masjid di Barat dari sisi gaya dan model bangunannya tidak lepas dari adanaya Unsur-unsur semiotika. Masjid yang sering di simbolkan dengan gambar menara dan kubah telah membekas dikalangan umat Islam termasuk di Barat. Maka tidak aneh jika model bangunan Masjid  di Barat tidak lepas dari Menara dan Kubah.

Berita

Pengumuan Hasil Seleksi Penerimaan Peser...

27 Jun 2021

Dibaca 201 Kali | 27 Jun 2021

Selengkapnya

PENGUMUMAN HASIL KELULUSAN SISWA

03 May 2020

Dibaca 658 Kali | 03 May 2020

Selengkapnya

Puspa Mahardika SMA N 1 Bantarkawung bag...

25 May 2019

Dibaca 427 Kali | 25 May 2019

Selengkapnya

Penerimaan Peserta Didik Baru Tahun Akad...

09 May 2019

Dibaca 390 Kali | 09 May 2019

Selengkapnya

UNBK SMA N 1 Bantarkawung

09 May 2019

Dibaca 487 Kali | 09 May 2019

Selengkapnya

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW

19 Nov 2018

Dibaca 479 Kali | 19 Nov 2018

Selengkapnya